Friday, November 21, 2008


Sebelum Yesus dari Nazaret


Dr. Rick Cornish


Kristus sudah ada dalam kekekalan jauh sebelum kelahiranNya sebagai Yesus. Ia menyatakannya kepada orang banyak, “Sesungguhnya sebelum Abraham jadi, aku telah ada” (Yohanes 8:58). Sebuah petunjuk yang jelas merujuk kepada identifikasi diri Yahweh tatkala Musa menanyakan namaNya di dalam Keluaran 3:14.


Keberadaaan Kristus tidak pernah dimulai pada suatu waktu, sebab Ia selalu sudah ada, dan Ia yang mendatangi kita masih sama seperti yang dahulu.Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. ….Firman itu telah menjadi manusia, dan diam diantara kita, dan kita telah melihat kemulianNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai anak tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran (Yohanes I:1, 14)


Firman yang menjadi Manusia itu merupakan Firman kekal yang tinggal ditengah-tengah kita dan bersama-sama dengan sang Bapa.


Doktrin ini sangat penting sekali. Kekristenan jatuh atau bangkit pada doktrin pra-eksistensi Kristus.


Jika Kristus hanya ada pada saat kelahiran Yesus, Ia berbohong dan tidak kekal, sehingga bukanlah Allah, dan sang Trinitas tidak ada.


Para pemimpin Yahudi memahami pentingnya pengakuan Kristus sebagai “Aku yang kekal”. Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia (Yohanes 8:58-59), hukuman untuk penghujatan. Beberapa baris berikut merupakan bukti yang menguatkan argumen pra-eksistensi Kristus.



  • PeranNya pada penciptaan. Kolose 1:16 karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.

  • Sifat IlahiNya. Kolose2:9 Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan,

  • PengutusanNya kedalam waktu untuk melaksanakan rencana Penebusan Allah, karena “setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepadaHukum Taurat” (Galatia 4: 4-5)

  • KemuliaanNya yang sebelumnya bersama-sama dengan sang Bapa, yang kemudian harus menghadapi kematianNya, ketika ia memintanya kembali, “Ya Bapa, permuliakanlahaku padaMu sendiri dengan kemuliaan yang Ku miliki di hadiratMu sebelum dunia ini ada (Yohanes 17:5)


Selain karya Kristus, aktivitas pra-inkarnasiNya meliputi penampakanNya yang berulang kali sebagai Malaikat Tuhan (Kejadian 22:11-18) dan peran khususnya bersama israel dalam Perjanjian Lama, seperti yang disebutkan Paulus sebagai “Batu Karang” pada Keluaran 17: 5-7: “dan mereka semua minum-minuman rohani yang sama dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu itu adalah Kristus” (I Korintus 10:4)


Kesimpulan paling mengejutkan dari prfa-eksistensi Kristus merupakan keunikanNya. Ia dipisahkan dari pemimipin-pemimpin agama lain, berbeda total dari semua mereka. Ia adalah Allah yang kekal, satu dengan sang Bapa, yang secara sukarela memilih memasuki dunia untuk menyatakan sang Bapa: “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada dipangkuan Bapa, Dialah yang menyatakannNya” (Yohanes 1:18).


Diantara perkataan terakhir Alkitab yang sangat jelas menyatakan pra-eksistensi Kristus, Kristus berkata : “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, yang Awal dan Yang Akhir” (Wahyu 22:13).


Kekristenan bukanlah sekedar salah pilihan dari berbagai jenis kemungkinan.Kita tidak mengikuti pemimpin agama Biasa, pemimpin revolusi sosial, orang yang melakukan muzizat atau guru yang bija, melainkan satu-satunya dan hanya satu Sang Tungal, Yang Kudus. Ia layak menerima pujian kita, kemuliaan dan hormat.



Sumber : 5 Menit Teologi

Wednesday, November 19, 2008

Asal Mula Hari Natal

Asal Mula Hari Natal



Setiap tahun pada tanggal 25 Desember, kita merayakan hari natal, yaitu hari kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus . Sebenarnya kapankah dimulainya hari Natal itu ?



Ada seorang teolog Jerman yang bernama Oscar Cullman sangat tertarik untuk pertanyaan ini dan berusaha untuk mendapatkan jawaban. Setelah diadakan penelitian, maka pada akhirnya ia mendapati jawaban sebagai berikut.


Ternyata pada abad permulaan sampai abad ketiga, umat Kristen tidak merayakan hari Natal. Alasan mereka tidak merayakan kelahiran Tuhan Yesus, karena pada waktu itu umat Kristen hanya memfokuskan pemikiran dan perhatian hanya pada kesengsaraan dan kebangkitan Kristus saja. Dan hal ini jelas kita lihat dalam catatan-catatan yang terdapat dalam kitab Kisah para Rasul. Di samping itu, keKristenan pada waktu itu dimusuhi, bukan saja oleh orang-orang Yahudi dan juga oleh pemerintah yang berkuasa pada waktu itu. Oleh karena itu, kehidupan umat Kristen selama tiga abad lebih banyak duka daripada sukanya. Dalam situasi demikian, mereka belum sampai memikirkan dan belum memungkinkan untuk merayakan hari kelahiran Yesus yang sifatnya dominan sukanya. Sedangkan mereka dalam situasi yang sangat memprihatinkan.



Dengan berlalunya waktu, khususnya masa penganiayaan mulai berkurang, maka mulailah mereka, disamping memikirkan kesengsaraan, kebangkitan, mereka mulai memikirkan tentang keoknuman Yesus Kristus. Setelah itu mereka memperhatikan dan menitikberatkan juga kebenaran Kalam menjadi manusia. Yang paling getol memperhatikan kebenaran yang berkaitan tentang kalam menjadi Manusia adalah umat Kristen yang berada di sebelah Timur dan mereka berusaha mengetahui rahasia Allah melalui tubuh masuk ke dalam dunia ini. Pada waktu perhatian difokuskan pada Yesus dalam sejarah, maka wajarlah mereka memikirkan juga tentang kelahiranNya dan kemudian merasa perlu kelahiran Tuhan Yesus itu diperingati dan dirayakan.



Peninggalan catatan tentang perayaan natal yang paling kuno ditemukan di Mesir dan ditemukan pula tata cara ibadah Natal yang mula-mula. Dan tata cara ibadah Natal ini sangat digemari umat Kristen pada waktu itu. Tata ibadah ini dimulai dengan pembacaan Alkitab tentang kelahiran Yesus di kota Betlehem, melarikan diri ke Mesir, kemudian kembali lagi dan menetap di Nazaret. Seusai pembacaan, lalu umat Kristen menyanyikan lagu yang berbunyi : “Yesus lahir di Betlehem, dibesarkan di Nazaret dan menetap di Galilea”. Setelah itu, pemimpin menguraikan kedatangan orang Majus menyampaikan puji-pujian, “ Dari langit kami melihat tanda, bintang Betlehem yang gemerlapan cahayanya”



Seusai itu, maka pemimpin membacakan catatan kelahiran Yesus yang terdapat di kitab Injil Lukas, dan disambung dengan pujian yang dibawakan oleh Paduan suara yang berbunyi, “ Para gembala di padang sangat terkejut dengan berlutut mereka menyanyikan : Mulialah Allah, Haleluyah! Mulialah bagi Allah Anak dan Roh Kudus! Haleluya! Haleluyah! Haleluyah !”


Inilah catatan tentang perayaan umat Kristen pada abad keempat dan hari perayaan diselenggarakan pada malam hari tangal 6 dan 7 januari. Mengapa perayaan Natal umat Kristen abad keempat pada bulan Januari ? Untuk mengetahui hal ini, maka perlulah kita melihat kronologis sejarah.



Pada abad kedua, muncul sebuah aliran bidat yang berasal dari pengikut-pengikut Gnostik Aleksanderia. Mereka merayakan Hari Baptisan Yesus sekitar tanggal 6 sampai 10 Januari. Perayaan ini diadakan karena mereka berpandangan bahwa sifat ilahi Yesus baru dinyatakan pada waktu Ia menerima baptisan. Sebab itu, mereka menamakan hari baptisan Yesus sebagai Hari Epiphani. Jika ditelurusi, maka jelas perayaan ini diadakan berdasarkan kepercayaan orang-orang Mesir ynag menganggap bahwa tanggal 6 dan 7 malam hari keramat, karena pada hari-hari ini, sungai Nil menunjukkan kekuatan gaibnya.


Orang-orang Kristen Ortodoks timur, tidak menerima pandangan ini. Mereka tidak percaya bahwa pernyataan sifat ilahi Yesus terjadi pada waktu dibabtis, melainkan sudah ada sejak dilahirkan. Tapi mereka tidak menyangkal pentingnya hari raya baptisan itu, oleh karena itu, mereka lalu menggabungkan dan menetapkan tanggal 6 Januari sebagai hari perayaan kelahiran dan baptisannya.


Perayaan ini sudah berlangsung cukup lama di tanah Palestina, tapi mengapa sekarang perayaan kelahiran ini bukan diadakan pada tanggal 6 Januari, melainkan pada tanggal 25 Desember ? Sebab musabab, perubahan ini tidak begitu jelas diketahui, dan mungkin juga tidak akan diketahui untuk selama-lamanya. Menurut dugaan DR Cullmann, perubahan ini terjadi di kota Roma, waktunya sekitar tahun 325-354 M. Dari catatan yang ada, diketahui bahwa pada jalam pemerintahan Konstantin, perayaan Natal sudah diubah menjadi tanggal 25 Desember. Perubahan ini terjadi, mungkin karena tanggal 25 Desember kebetulan hari raya orang-orang Romawi. Mereka menggunakan hari itu untuk menyembah kepada dewa matahari yang disebut sebagai dewa tak terkalahkan ( unconquered sun-god ), tapi setelah agama Kristen diterima menjadi agama negara, maka hari itu diubah dan dipergunakan untuk merayakan hari kelahiran Yesus Kristus.



Mengapa pada mulanya perubahan ini menimbulkan pro dan kontra, tapi pada akhirnya diterima secara bulat. Kesepakatan dicapai, menurut hasil penyelidikan DR Cullmann, karena jasa Uskup Chrysostom, Uskup ini terkenal pandai berbicara, mungkin dengan talenta berbicaranya ini, sehingga dapat menaklukan orang-orang yang pada mulanya tidak setuju. Pada akhirnya dengan suara bulat, menerima tanggal 25 Desember sebagai hari untuk merayakan hari kelahiran Yesus Kristus.


Sebenarnya Yesus lahir pada tanggal berapa ? pada jaman Lukas menulis Injil Lukas, sudah tidak diketahui, kapan Yesus dilahirkan. Jika tidak, maka jauh-jauh hari sudah dimuatnya. Karena kita mengetahui dengan jelas, bahwa dokter Lukas ini adalah seorang yang teliti dan cermat, khususnya mengenai hal-hal yang bersangkutan dengan sejarah. Ada orang berpendapat bahwa Yesus lahir pasti bukan pada musim dingin, karena pada waktu itu, ada para gembala di padang sedang menjaga domba-domba mereka.



Perayaan Natal diselenggarakan, baik mempergunakan hari rayanya orang kafir atau hari penyembahan dewa dan sebagainya, tapi tidak dapat mengurangi makna dan fakta sejarah kelahiran Yesus Kristus. Yang terpenting bagi kita bahwa kelahiran Yesus adalah fakta sejarah yang tidak dapat diragukan dan setiap kali kita merayakan Natal, biarlah kembali mengingatkan kasih Allah yang begitu besarnya bagi umat manusia.